Harga TBS Terus Anjlok

Harga TBS Terus Anjlok, Apkasindo Minta Pemerintah Bergerak Cepat

Media Kampar – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) mensinyalir harga TBS terus anjlok di 22 provinsi, turun 72% atau Rp 4.250 dibanding sebelum larangan ekspor. Ketua DPP Apkasindo Gulat Manurung mengatakan pemerintah perlu bergerak cepat untuk mengurangi beban yang menekan harga TBS tersebut.

“Petani berharap segera ada tindakan dari pemerintah untuk menekan hal-hal yang kiranya menekan harga TBS, supaya dicabut. Seperti bea keluar, pungutan ekspor, DMO, DPO dan terakhir FO (fush-out),” kata Gulat sebuah video di YouTube Apkasindo, Kamis 23 Juni 2022.

Menurutnya, bea keluar harus dikurangi dari $288 menjadi $200, dan kemudian pajak ekspor, dia ingin diturunkan dari $200 menjadi $100. Dia menambahkan, sehingga nantinya total beban yang akan ditanggung dalam konteks harga crude palm oil (CPO), menjadi $350.

“Hari ini CPO Cif Rotterdam ada diharga $1.400. Kalau itu dilakukan berarti ada pengurangan biaya $350. Jadi CPO Indonesia harusnya $1.050,” katanya. Oleh karena itu, ketika mengkonversi 1050 USD ke IDR, harga CPO di Indonesia seharusnya menjadi 15.500 USD per kilogram. Dia mengatakan jika ditransmisikan kepada harga TBS petani sawit, itu akan menjadi Rp. 3300 TBS per kilogram.

Baca juga: Harga Minyak Goreng Curah Kembali Ke Rp 14.000 Per Liter, Ini Faktanya!

Sementara itu, dia mencontohkan harga TBS untuk petani swadaya saat ini hanya Rp. 1150 per kilo. Sedangkan untuk petani bermitra adalah Rp. 2.010 per kilo.

“Itulah yang dikatakan Pak Luhut, harga TBS harus di atas tiga ribu. Namun, jika regulasi sebelumnya atau beban sebelumnya tetap digunakan, yakni bea keluar, pungutan ekspor, DMO, DPO dan FO, yang totalnya US$753 atau setara 9.400 rupiah”.

Jika beban tidak berkurang, kata Gurat, harga tandan buah segar untuk petani hanya Rp 2.010 per kilogram. “Bebannya Rp 1.290 per kilo TBS, tentu terlalu berat bagi kami. Tapi kalau beban itu bisa diringankan, harga TBS kami akan naik,” kata Gulat.

Sementara menurut Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), penurunan harga TBS sawit disebabkan beberapa faktor, di antaranya pabrik CPO masih mengutamakan stok TBS lama. Stok menunmpuk karena sebagian tidak terserap saat pemerintah menerapkan kebijakan larangan ekspor CPO.

“Pabrik CPO masih mengutamakan serapan TBS yang sudah ada diantrian pabrik akibat larangan ekspor,” kata Bhima saat dihubungi Kamis, 23 Juni 2022.

Faktor lain di balik penurunan harga CPO adalah penurunan permintaan CPO asing sebesar 28% selama sebulan terakhir. Menurut Bhima, penurunan tersebut karena volatilitas harga referensi CPO, yang baru-baru ini mencapai RM4.998 per ton.

“Tanda resesi dan kenaikan inflasi memaksa konsumen dan industri di negara tujuan ekspor menurunkan permintaan CPO Indonesia,” ujarnya.

Bhima menyarankan agar pemerintah mendirikan pabrik kelapa sawit untuk menyerap hasil panen petani swadaya agar stok TBS segera terjual dan turunnya harga bisa diwaspadai. Pabrik tersebut akan mampu meningkatkan serapan TBS dan daya tawar petani.

“Dengan cara ini petani tidak hanya mengandalkan perusahaan, tetapi juga mengolah CPO secara mandiri. Alhamdulillah Badan Pengelola Dana Budidaya Kelapa Sawit siap mendanai pabrik dan memproduksi minyak goreng dalam kemasan,” katanya.

Ia juga meminta pemerintah tegas melaksanakan Permentan dan mengawasinya dengan baik. Kemudian memberi arahan kepada petugas di lapangan untuk memberikan sanksi kepada perusahaan sawit yang melakukan kecurangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *